Wisata Mengenang Tragedi, Maukah Kamu Mencoba dark tourism?

alisakusumaUncategorizedLeave a Comment

 

https://www.travelomia.com/286/museum-sisa-hartaku-jogja-bagus-untuk-wisata-anak-sekolah.html

 Mengisi liburan dengan pergi berwisata tentu menjadi hal yang menyenangkan, apalagi setelah menjalankan rutinitas yang cukup melelahkan, berwisata ke tempat rekreasi, wisata alam, atau berlibur ke luar negeri bersama keluarga maupun teman-teman adalah suatu hal yang dapat melepaskan penat akan aktivitas sehari-hari. Berwisata ke tempat yang anti-mainstream tentu menjadi suatu hal yang menarik untuk dicoba, seperti extreme sports dimana wisatawan akan disuguhkan berbagai permainan yang memacu adrenalin seperti paralayang, bungee jumping, arung jeram dan masih banyak lainnya. Dan ada juga tempat wisata yang dapat memberikan sensasi yang berbeda kepada pengunjungnya yaitu dark tourism , lalu apa itu dark tourism?

 

     dark tourism (wisata kelam) merupakan perjalanan wisata yang mengunjungi lokasi atau tempat yang identik dengan tragedi yang memakan banyak korban jiwa. dark tourism pertama kali dicetuskan Prof. Foley dan Lennon dari Glasgow Caledonian University pada 1996. Bisa dibilang, lokasi wisata dark tourism adalah tempat-tempat yang berhubungan dengan kematian, seperti bekas penjara, bekas arena perang, bekas tempat mengungsi, dan sebagainya. Seperti di negara Rumania yang memiliki spot dark tourism yang mungkin sudah dikenal semua penjuru dunia, yaitu wisata mengunjungi kastil Drakula. Uniknya meskipun dark tourism adalah tempat yang berkaitan dengan tragedi kematian, namun banyak wisatawan yang antusias untuk berwisata ke tempat tersebut. Selain itu, tempat wisata dark tourism tidak selalu harus digelar malam hari, tetapi saat di siang bolong pun perjalanan tersebut tetap bisa terlaksana ke lokasi-lokasi simbolik bencana dan kematian.

 

     Di Indonesia sebenarnya banyak sekali dark tourism yang dapat dikunjungi, karena pada zaman penjajahan yang terjadi di Indonesia dahulu kala pada akhirnya meninggalkan bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu di kala itu. Tak hanya tapak tilas masa peperangan saja yang dapat dijadikan dark tourism, tetapi juga tempat yang memiliki sejarah setelah terjadinya suatu bencana alam yang memakan korban jiwa. Tentu jika melihat dari tempat-tempatnya dark tourism, bisa diartikan kegiatan wisata di lokasi-lokasi yang tidak lazim, bekas lokasi bencana atau kematian, situs berbahaya, ada mitos terlarang dan lain sebagainya.

     Jika kamu tertarik dengan dark tourism, ada dapat mencoba beberapa tempat yang memiliki sejarah kelam di Indonesia. Berikut 5 tempat wisata dark tourism yang dapat anda coba :

https://id.wikipedia.org/wiki/Lubang_Buaya

 

  1. Museum Lubang Buaya (Jakarta Timur)

        Di dalam museum ini menampilkan diorama penyiksaan PKI (Partai Komunis Indonesia) terhadap rakyat Indonesia serta memperlihatkan baju-baju para jenderal yang dibunuh pada saat pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Ada juga rumah kuno tempat para pemberontak berkumpul, dan terdapat sumur maut yang diduga digunakan PKI untuk membuang mayat ketujuh Jenderal Indonesia ke dalam sumur yang hanya berukuran 75cm, menjadi saksi bisu kekejaman para PKI.

 

  1. Museum Sisa Hartaku (Yogyakart)

Museum Sisa Hartaku dahulunya adalah rumah milik bapak Riyanto dan keluarga yang terkena terjangan wedhus gembel (awan panas) dampak dari letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 meluluh lantahkan segala yang dilewatinya, mulai dari manusia, hewan, rumah, dan harta benda. Lalu setelah bencana itu berakhir bapak Riyanto yang melihat harta bendanya mengalami kerusakan tak membuat beliau membuang atau menjual harta bendanya, ia mengumpulkan harta benda miliknya dan warga disekitarnya untuk dijadikan koleksi yang dapat dilihat oleh masyarakat luas hingga terciptalah Museum Sisa Hartaku. Serta terdapat salah satu saksi sejarah yang mencatat rumah tersebut diterjang awan panas, yaitu jam dinding yang meleleh dan berhenti bergerak tepat disaat kejadiian itu terjadi.

https://templeszone.com/downloads/lawang-sewu-001/

  1. Lawang Sewu (Semarang)

        Lawang sewu merupakan bangunan belanda yang dibangun pada tahun 1907 dan sempat diperuntukkan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, sebuah jawatan perkeretaapian swasta milik Belanda pada masa itu. Namun berakhir pada saat Jepang menguasai Semarang sekitar tahun 1940an. Kemudian gedung megah ini diubah fungsinya menjadi tempat peristirahatan tentara Jepang. Sedangkan di ruangan bawah tanah digunakan untuk ladang pembantaian penduduk pribumi, pemuda Indonesia dan tentara Belanda. Kekejaman tentara Jepang memang sangat tersohor dalam sejarah. Lawang Sewu adalah saksi bisu bagaimana kekejaman tentara Jepang menyiksa dan membantai siapapun yang mencoba melawan mereka.

 

  1. Museum Tsunami Aceh (Aceh)

          Tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 memang menggemparkan dunia, tsunami ini meluluhlantakkan Provinsi Aceh hingga merenggut banyak korban jiwa, yaitu sekitar 230.000-280.000 jiwa. Untuk mengenang peristiwa bencana alam yang sangat dahsyat ini, maka dibangunlah Museum Tsunami Aceh. Jika kamu melihat bangunan ini dari atas, maka akan terlihat seperti pusaran tsunami. Dan begitu masuk di dalam, kamu seolah sedang memasuki lorong gelap gelombang tsunami dengan ketinggian 40 meter dengan efek air yang jatuh. Kemudian akan ada banyak standing screen yang menyajikan foto-foto pasca tsunami berupa kerusakan dan kehancuran serta korban-korban bencana tersebut. Salah satunya adalah kapal PLTD Apung yang berbobot 2.600 ton yang terseret dan terdampar 5 km hingga ke tengah kota, menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami aceh.

 

  1. Museum Fatahillah (Jakarta)

         Terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, gedung ini dulunya merupakan Stadhuis atau Balai Kota yang dibangun di atas area lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dibangun atas perintah Gubernur Jendral Johan Van Hoorn pada tahun 1707-1710. Bangunan balai kota ini terdiri dari bangunan utama, ruang pengadilan, dan ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Sekitar pada tahun 1740, gubernur Hindia Belanda Adriaan Valckenier pernah memerintahkan ribuan etnis Tionghoa untuk berbaris di depan gedung kemudian dieksekusi secara sadis oleh para algojo yang telah dipersiapkan. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan geger pecinan.

     Jadi apakah kamu tertarik untuk mengunjungi lokasi dark tourism? Tentu sensasi yang diberikan dalam wisata ini berbeda dari tempat wisata yang lainnya. Saat kita mengunjungi tempat wisata dark tourism seperti bekas penjara atau tempat eksekusi pada zaman kolonial, membuat batin kita turut merasakan emosional terhadap kejadian yang terjadi di masa lampau seperti tindak kekerasan maupun eksekusi sehingga kita memiliki rasa empati terhadap para korban. Selain itu, dengan mengunjungi tempat wisata dark tourism dapat memberi kita pengetahuan yang lebih akan bencana yang terjadi di tempat tersebut serta kita akan lebih paham agar tidak terulang lagi tragedi yang serupa. Setelah berwisata dark tourism, tak sedikit dari para wisatawan yang merasa lebih bersyukur dan menghargai kehidupan, karena kita akan lebih menyadari bahwa bencana bisa terjadi kapan saja dan tidak menutup kemungkinan bahwa kita bisa menjadi salah satu korbannya.

0 votes

Diskusi / Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *