Turunnya Geliat Pariwisata Karena ‘Ketakutan’ Akan Bencana Alam yang Hanya Ada di Angan-Angan Terliar Kita

Larasestu HadisumarindaAsk The WanderersLeave a Comment

Ditemani secangkir teh osmanthus, suara kokok ayam dan cerecet burung di pagi hari, saya memulai tulisan ini di tengah-tengah kegelisahan memikirkan: “apakah tidak ada tulisan bertajuk pariwisata yang cukup mengganggu sehingga bisa saya nikmati sambil menyesap secangkir teh dan mengudap tempe mendoan?”

Entah saya yang mainnya kurang jauh (jarang blog walking) atau memang belum ada penulis atau media yang menggarap tajuk ini dengan cukup serius dan menarik. Karena bacaan yang bisa saya nikmati minim sekali jika kita membicarakan mengenai dunia pariwisata.

Selain teh osmanthus, suara kokok ayam dan cerecet burung, saya memulai tulisan ini tepat pada hari kedelapan tsunami menerjang Kota Palu. Di mana hingga hari ini, tercatat sudah lebih dari 1000 orang menjadi korban jiwa.

Dampak bencana alam seperti tsunami sendiri sangatlah masif sebenarnya, karena tidak hanya memakan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan menghentikan roda perekonomian suatu daerah. Tetapi bencana alam juga bisa “mematikan” geliat industri pariwisata baik itu yang terdampak langsung maupun tidak terdampak langsung.

Nah, sebagai salah satu orang yang berkomitmen dan bergerak pada industri ini, tentunya berbagai aspek yang bisa mempengaruhi dunia pariwisata menjadi hal yang lebih menarik untuk saya kupas dan bahas lebih mendalam dibandingkan topik-topik lainnya. Seperti misalnya di tengah-tengah bencana yang sedang melanda Indonesia, kenapa tagar #MukaMuPlastik justru lebih meramaikan jagat Twitter dibandingkan tagar-tagar mengenai kondisi Palu dan Donggala.

Ada yang unik memang dengan Indonesia ku tercinta ini.

“Bencana alam mungkin tidak bisa kita cegah tetapi apakah tidak bisa kita tanggulangi sejak dini?”

Supaya kerusakan dan kerugian yang kita alami tidak masif dan bisa seminimal mungkin. Karena bagaimanapun di era kemajuan teknologi seperti sekarang, bencana seharusnya bukan sesuatu yang mustahil untuk diprediksi dan diramalkan secara scientifik.

Tapi sekali lagi, ada yang unik memang dengan Indonesia ku tercinta ini.

Teknologinya sudah ada, tetapi kesadaran kita untuk menjaga dan merawat teknologi itu tidak ada. Hanya karena ulah beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab, 1000 orang lebih menjadi korban karena keserakahan dan kelalaian beberapa pihak. Dan satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dari kesalahan tersebut. Mengingat geografis wilayah Indonesia membuat negara kita rawan menghadapi bencana yang serupa. Palu dan Lombok bukan yang terakhir. Siklus alam terus berjalan.

Dan tentu kita setuju, dampak bencana yang terjadi sangat tidak baik bagi industri pariwisata. Apalagi jika kita tidak melakukan tindakan preventif sedari awal.

Selain kerusakan yang timbul di suatu destinasi pariwisata, bencana alam juga menimbulkan rasa takut bagi semua pihak. Bukan hanya bagi mereka yang terdampak langsung tetapi juga mereka yang tidak terdampak langsung pun bisa merasakan ketakutan yang serupa.

Contoh, salah satu klien kami langsung mereschedule rencana perjalanan mereka ke Gorontalo karena tsunami dan gempa yang terjadi di Palu. Ketakutan itu nyata kawan, bahkan bagi mereka yang tidak terdampak langsung bencana.

Dan yang bisa kita lakukan hanya berangan-angan dan berandai-andai. Andaikan saja teknologi pendeteksi bencana yang kita miliki dijaga dengan baik sehingga tidak dicuri dan dirusak oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Andaikan saja teknologi pendeteksi bencana kita berfungsi dengan baik sehingga kita bisa tahu bencana apa yang akan terjadi, kapan, dan di mana, supaya kita bisa mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Bayangkan jika teknologi kita bisa seakurat itu dalam mendeteksi bencana, tentu tingkat kepercayaan kita terhadap instansi pemerintah bisa naik karena mereka benar-benar mampu ‘memberikan rasa aman’ kepada warga negaranya sesuai dengan amanah undang-undang.

Bayangkan, jika sebagai seorang active traveler entah kamu pergi untuk liburan, perjalanan dinas, atau alasan lainnya—dan sejak jauh-jauh hari kamu bisa tahu destinasi yang kamu kunjungi itu aman atau tidak dari bencana. Bukankah itu akan sangat membantumu untuk mengambil keputusan sedari dini untuk berkunjung atau tidak berkunjung ke tempat tersebut? Dan jika tujuanmu adalah berlibur, kamu bisa menghindari tempat-tempat yang berbahaya dan memilih opsi lainnya. Atau jika kamu pergi untuk perjalanan dinas, kamu bisa mereschedule ulang dan memilih waktu atau tempat lain yang tidak membahayakan keselamatanmu.

Terasa seperti keajaiban jika itu bisa terjadi. Karena, yap, saat ini hal tersebut hanya ada di angan-angan, belum terealisasi.

Tetapi dari sini bisa kita simpulkan jika faktor ‘rasa aman’ menjadi pertimbangan utama seseorang memilih suatu destinasi wisata. Dan jika kita mampu memberi garansi itu terhadap turis-turis kita, baik itu tamu lokal maupun mancanegara, tentunya hal tersebut akan memberi nilai tambah bagi kita ‘kenapa-mereka-harus-memilih-destinasi-yang-kita-miliki-dan-bukannya-tempat-lain.’

Diskusi / Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *